Kamis 5 Maret 2026 - 21:50
Syarah Doa | Jenis-Jenis Ibadah dan yang Terbaik Di Antaranya

Hawzah/  «اَللّهُمَّ ارْزُقْنی فیهِ طاعَةَ الْخاشِعینَ وَاشْرَحْ فیهِ صَدْری بِاِنابَةِ الْمُخْبِتینَ بِاَمانِکَ یا اَمانَ الْخاَّئِفینَ», "Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku di bulan ini ketaatan orang-orang yang khusyuk, dan lapangkanlah dadaku di bulan ini dengan taubat orang-orang yang tunduk. Dengan perlindungan-Mu wahai Pelindung orang-orang yang ketakutan."

Berita Hawzah – Dengan memohon kepada Allah Swt agar menerima segala amal ibadah kaum muslimin, menyajikan penjelasan mengenai doa hari kelima belas bulan suci Ramadhan yang disampaikan oleh Hujjatul Islam wal Muslimin Muhammad Hasan Zamani. Berikut adalah doa hari kelima belas bulan Ramadan beserta artinya:

«اَللّهُمَّ ارْزُقْنی فیهِ طاعَةَ الْخاشِعینَ وَاشْرَحْ فیهِ صَدْری بِاِنابَةِ الْمُخْبِتینَ بِاَمانِکَ یا اَمانَ الْخاَّئِفینَ»

"Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku di bulan ini ketaatan orang-orang yang khusyuk, dan lapangkanlah dadaku di bulan ini dengan taubat orang-orang yang tunduk. Dengan perlindungan-Mu wahai Pelindung orang-orang yang ketakutan."

Hamba yang berpuasa pada hari ini memanjatkan dua permohonan kepada Allah Swt. Pada bagian pertama doa ini disebutkan: «اَللّهُمَّ ارْزُقْنی فیهِ طاعَةَ الْخاشِعینَ», "Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku di bulan ini ketaatan orang-orang yang khusyuk."

Kekhusyukan dalam beribadah dapat terwujud dalam tiga keadaan. Dalam salat, kita mungkin mengalami salah satu dari ketiga keadaan tersebut

1. Salat dan Ibadah yang Berakar pada Kemunafikan

Jenis pertama adalah salat dan ibadah yang dilakukan dengan malas, kurang minat, dan lain sebagainya. Al-Quran menganggap kemalasan dan kurangnya minat dalam beribadah, salat, dan menaati perintah Ilahi sebagai salah satu manifestasi kemunafikan dan ciri-ciri orang munafik. Jangan sampai kita tertimpa kemalasan dan kurangnya minat dalam melaksanakan tugas-tugas Ilahi dan lalai terhadap akar kemunafikan di dalam diri kita. Dalam ayat 142 Surah An-Nisa disebutkan: «إِنَّ الْمُنافِقینَ یُخادِعُونَ اللّهَ وَ هُوَ خادِعُهُمْ وَ إِذا قامُوا إِلَى الصَّلاةِ قامُوا کُسالى یُراؤُنَ النّاسَ وَ لا یَذْکُرُونَ اللّهَ إِلاّ قَلیلاً», "Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali."

2. Salat dan Ibadah dengan Kelalaian

Jenis ibadah yang kedua adalah salat dan ibadah yang dilakukan dengan lalai dan kurang mengingat Allah. Mungkin ibadah ini tidak dilakukan dengan malas, bahkan dengan semangat, tetapi hati orang tersebut tidak hadir dan lalai dari Allah saat salat dan beribadah. Secara hukum fikih, mungkin ibadah seperti ini menggugurkan kewajiban, namun kemungkinan besar tidak memiliki nilai dan pahala. Bahkan, Allah Swt menggunakan kata 'wail' (celakalah) dalam Al-Quran untuk orang-orang seperti ini. Allah Swt dalam ayat 4 hingga 7 Surah Al-Ma'un berfirman: «فَوَیْلٌ لِلْمُصَلِّینَ; الَّذِینَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ سَاهُونَ; الَّذِینَ هُمْ یُرَاءُونَ; وَیَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ», "Maka celakalah orang-orang yang salat, (4) (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, (5) orang-orang yang berbuat riya, (6) dan enggan (menolong dengan) barang berguna." (7)

3. Salat dan Ibadah yang Terbaik

Jenis ketiga dari ibadah adalah salat dan beribadah yang dilakukan dengan khusyuk. Khusyuk berarti memusatkan seluruh perhatian kepada Allah Swt dengan penuh kerendahan hati serta menganggap kecil diri sendiri di hadapan kebesaran dan keagungan-Nya.

Dalam Al-Qur'an, sifat khusyuk sangat dihargai. Hal ini disebutkan dalam ayat 45 dan 46 Surah Al-Baqarah: «وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ ;الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَالَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ», "Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (45) (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya." (46)

Pada bagian kedua dari doa ini disebutkan: «وَاشْرَحْ فیهِ صَدْری بِاِنابَةِ الْمُخْبِتینَ», "Dan lapangkanlah dadaku di bulan ini dengan taubat orang-orang yang tunduk."

Tiga poin dalam bagian doa ini patut diperhatikan:

1. Kelapangan dada, atau kesabaran, adalah hal yang penting. Sayangnya, sebagian orang tidak memilikinya dan mudah marah atau putus asa. Orang-orang seperti ini cenderung sulit meraih kesuksesan. Nabi Musa alaihissalam setelah menerima kenabian merasa tidak memiliki kelapangan dada dan mudah marah. Oleh karena itu, ia memohon kepada Allah Swt: «قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي; وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي; وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي; يَفْقَهُوا قَوْلِي», "Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, (25) dan mudahkanlah untukku urusanku, (26) dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, (27) agar mereka mengerti perkataanku." (28) Dan Doa ini sangat bermanfaat bagi para rohaniwan. Doa ini membantu mereka menghadapi berbagai tantangan seperti protes, kritik, pertanyaan yang menyudutkan, hinaan, dan fitnah. Dengan doa ini, mereka diharapkan mampu menahan amarah dan selalu menunjukkan senyum serta keramahan kepada semua orang.

2. Mukhbitin. Mukhbit adalah orang yang mencintai Allah. Tanda cinta seorang Mukhbit adalah mencintai Allah, Al-Quran, dan beriibadah kepada-Nya.

Dalam ayat 34 dan 35 Surah Al-Hajj disebutkan tanda-tanda mukhbitin: « وَ بَشِّرِ الْمُخْبِتِینَ * الَّذِینَ إِذا ذُکِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَ الصّابِرِینَ عَلى ما أَصابَهُمْ وَ الْمُقِیمِی الصَّلاةِ وَ مِمّا رَزَقْناهُمْ یُنْفِقُونَ», "... dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (34) (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap musibah yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan salat dan orang-orang yang menafkahkan sebagian rezeki yang Kami karuniakan kepada mereka." (35)

3. Inabah; Terkadang, seorang Mukhbit memiliki inabah kepada Allah Swt. Apa itu inabah? Inabah adalah keadaan merendahkan diri di hadapan Allah. Alangkah baiknya jika kita mencapai maqam munibin. Al-Quran dalam ayat 33 Surah Ar-Rum berfirman: «وَ إِذا مَسَّ النّاسَ ضُرٌّ دَعَوْا رَبَّهُمْ مُنِیبِینَ إِلَیْهِ ثُمَّ إِذا أَذاقَهُمْ مِنْهُ رَحْمَةً إِذا فَرِیقٌ مِنْهُمْ بِرَبِّهِمْ یُشْرِکُونَ», "Dan apabila manusia ditimpa oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali (taat) kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan merasakan kepada mereka rahmat dari-Nya, tiba-tiba sebagian dari mereka mempersekutukan-Nya."

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha